Emosi, maaf.

Selama ini saya berfikir bahwa menyimpan kemarahan hanya akan menambah penyakit bagi tubuh, yang pada akhirnya akan menciptakan penyakit bernama kanker, tumor, dll. Sugesti. Jelas. Tapi hal itu yang saya percayai. Semacam doktrin ke diri sendiri untuk berusaha mengeluarkan emosi, tidak untuk ditahan. Hal inilah yang menyebabkan saya memilih untuk menjadi extrovert.

Kalaupun saya emosi dengan pihak yang tidak bisa atau tidak memungkinkan untuk diemosikan (misal pihak yang lebih tua, orang tidak dikenal, dsb), suami saya sudah mengijinkan saya untuk menyalurkan padanya. Tapi, ada suatu ketika emosi saya sudah memuncak dan belum dapat disalurkan, maka respon saya adaha mengeluarkan emosi itu pada pihak yang tidak memungkinkan tsb. Efeknya? Jelas perubahan sikap dari ybs. Ini yang selama 26 tahun kehidupan saya selalu saya pikirkan sebelum menyalurkan emosi. Ternyata bisa lepas kontrol juga. 

Saat ini perubahan sikap dari ybs masih berlangsung. Entah sampai kapan. Semoga tidak lama. Entah harus meminta maaf berapa banyak. 

Maaf.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kabar takashi kashiwabara di 2014?

Romansa percintaan

Celotehan Bis umum versus trans jakarta