Salam pejuang dua garis

Hai. Saya mau bercerita tentang saya, pernikahan, usaha kehamilan, awal kehamilan dan kehamilan. Cerita ini tidak menjadikan suatu rujukan atau parameter keberhasilan, pesan moralnya, terus berjuang dan berusaha, yakin semua indah pada waktunya. Yuk dimulai ceritanya.


Chapter 1

Pernikahan

Saya dan suami menikah pada 22 april 2012.

Usia saya dan suami kala menikah adalah 24 tahun. Belia jelas. Kami memutuskan menikah setelah menjalani 4 tahun masa pacaran. Pada saat 1 hari sebelum hari pernikahan, saya berdoa agar saya tidak langsung memiliki keturunan. Kenapa? 

  1. Karena saya sangat amat mandiri. Saya ingin menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai istri.
  2. Saya pernah berjanji pada diri sendiri, Setelah saya memiliki keturunan, saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan yang saya naungi


Doa tersebut saya panjatkan dan tanpa ada usaha untuk menunda (no kondom, no schedule sex). Karena keinginan untuk memiliki keturunan tetap ada, dan saya tidak berdoa kapan saya siap. Saya percaya Tuhan maha mengetahui kesiapan saya.


Chapter 2

Usaha kehamilan

Menjelang 1 tahun pernikahan, saya mulai khawatir, kenapa belum ada tanda” kehamilan. Mulai lah saya ke beberapa dokter dan alternatif:

  1. Tahun pertama. Dokter evasari - dokter kalimas muda harahap. Saya dilakukan tes paten saluran dengan ditiup dan hasilnya saluran bersih sehingga saya diberikan obat” pembesar telur karna saya dinyatakan PCO (telor banyak tapi tidak ada yang berkembang)
  2. Tahun kedua. Dokter bunda - dokter taufik jamaan saya dites lagi melalui lab dengan menggunakan cairan untuk tes saluran dan hasilnya bersih. Kembali diberikan obat” pembesar telur dan proses inseminasi. Inseminasi gagal. Di tahun ini pula, saya sempat ke beberapa ahli pijat untuk kehamilan. 
  3. Tahun ketiga. Fokus ke pengobatan alternatif dengan terapi pijat pada telapak kaki. Terapi ini dilakukan oleh pak abu bakar. Di tahun yang sama, dilakukan juga terapi lainnya. Ada yang pake pemijatan pada telapak kaki dengan media merica. Ada yang minum jamu. Dll.
  4. Tahun keempat. Mencoba ke dokter bunda- dokter indra nc anwar beliau menyarankan untuk dilakukan laparoskopi. Saya jelas menolak. Karena jelas, hasil lab semua baik” saja. Kemudian saya ke rs sayyidah untuk mengecek suami dan pengaruh sperma suami ke saya. Hasilnya? Tingkat imun saya terlalu tinggi untuk dapat menerima sperma suami. Sehingga saya harus menjalani terapi dengan menyuntikkan sel darah putih suami ke saya sampai imun saya dinyatakan bersahabat dengan darah suami. 
  5. Tahun kelima. Program di rs sayyidah sudah selesai dan saya masih belum hamil. Kemudian saya ke dokter bunda- dokter aryando pradana untuk inseminasi dan bayi tabung. Hasilnya? Masih belum hamil.



Chapter 3

Awal Kehamilan.

Di penghujung tahun 2017, menjelang tahun ke 6 pernikahan, saya mencoba kembali ke bunda dan berkonsultasi dengan dokter ivan sini. Beliau sangat detail sekali dan menyatakan ada miom dan endo pada rahim saya sehingga menyarankan untuk laparoskopi. Beliau yakin saya bisa hamil normal karna masih muda dan produksi telur banyak. Saya menjalani operasi dengan segala risiko paska operasi yang saya terima. Paska operasi, menstruasi saya 2 minggu lebih di awal bulan januari 2018. Dan kembali menstruasi di akhir bulan. Sehingga saat bulan februari, saya pikir jadwal saya masih kacau. Sudah telat 4 hari, saya coba peruntungan testpack, dan hasilnya 2 garis. Sayangnya test pack saya sudah kadaluarsa. Hahaha. Sehingga saya harus beli baru dan coba lagi keesokan hari nya. Dan hasilnya positif. Alhamdulillah. Maha besar Allah, dengan segala kebaikannya. Saya positif hamil!


Semoga memberi gambaran untuk para calon ibu di luar sana. Tetap berusaha. Banyak berdoa. Semangat!


Chapter 4

Kehamilan.

Berawal dari 29 januari 2018, merupakan hari terakhir saya menstruasi. Selama kehamilan, saya tidak mual, tidak ada keluhan apapun. tapi saya kepikiran, saya baru operasi laparoskopi di akhir desember 2017, sehingga bekas jahitannya belum sampai berumur sebulan. Hehehe. Dan, ternyata di hasil operasi laparoskopi saya tidak ada informasi besarnya miom yang ada rahim saya dulu.

Selama masa kehamilan, saya berkonsultasi dengan 4 dokter:

  1. Dokter feby-rs evasari. Tipe ibu”, lumayan khawatiran setelah saya ceritakan bagaimana usaha saya dan suami untuk mendapat keturunan. Karna saya dan suami terbiasa dengan dokter pria, maka kami memutuskan kembali ke rs bunda
  2. Dokter ivan sini-rs bunda. Beliau turut bahagia mengetahui kehamilan saya dan berjanji akan memantau kehamilan saya sampai bulan ke-4. Saya disarankan mengganti dokter karna dokter ivan cukup sibuk. Oiya, prosedur di rs bunda, setiap trimester harus usg 4d yaaa.
  3. Dokter irham suhaemy-rs bunda. Saat masuk ke bulan 5, saya ganti dokter, dan saya baru mulai konsul soal proses kelahiran. Fyi, dr irham ini ada dokter yang juga operasi laparoskopi saya. Dari hasil foto, dr irham berkesimpulan bahwa miom saya bukan 1 cm seperti yang diinfokan dokter ivan sebelum operasi. Menurut dokter irham, miom tsb besarnya 4cm, dan cukup beresiko apabila melahirkan secara normal. Beliau sesungguhnya cukup menenangkan, tetapi rame pasiennya dan mulai prakteknya suka molor, saya dan suami memutuskan ganti dokter lagi saat memasuki bulan ke tujuh. Oh iya, didukung juga saat saya melihat biaya persalinan di rs bunda yang lumayan bikin ngurut dada..
  4. Dokter arman-rs evasari. Kembali ke rs evasari, yang lokasinya deket rumah, dan awal perkenalan mampu membuat saya dan dedek bayi memutuskan untuk mengganti dokter. Kenapa dedek bayi ikutan mutusin? Karena selama konsul di rs bunda, dedek bayi ga pernah mau memperlihatkan wajahnya saat di usg baik 2d maupun 4d. Kan saya jadi sedih. Dan pas di usg dokter arman pertama kali, langsung aja dedek bayinya nunjukin mukanya. Subhanallah kaya bapaknya. Batak kali. Hihihi. Dokter arman juga positif dan mendukung saya untuk persalinan normal dengan segala resiko yang akan dihadapi. Walaupun pada akhirnya, sampai dengan memasuki kehamilan ke 39 minggu 5 hari, saya belum mules ataupun pembukaan. Dinding rahim pun masih tebal. Dan dedek bayi beratnya sudah 3.79kg. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk operasi sesar di tanggal 3 Nov 2018 pukul 07.00 WIB di sabtu pahing. Dan bayi lucu ini kami namakan Senja Nismara Nasution (walaupun lahirnya ga jadi senja) hehehee.


Terima kasih sudah membaca. Ingat untuk selalu bersyukur ya.https://drive.google.com/uc?export=view&id=1CTZo6ZJ7uAYzrW3ZC2ME-_6oxp62a3Zb

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kabar takashi kashiwabara di 2014?

Romansa percintaan

Celotehan Bis umum versus trans jakarta